SISTEM PENGOLAHAN BARANG REAL TIME DENGAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI RFID PADA WALLMART

Abstrak

Pengolahan barang menjadi kebutuhan setiap orang baik secara pribadi maupun di dalam kelompok kerja atau usaha. Pengelolahan yang baik akan dapat meningkatkan efektifitas kerja. Menghemat waktu yang lebih jauh akan meminimalkan biaya pengelolahan. Pengelolahan barang yang ada sekarang ini sudah diupayakan agar dapat menjaga sirkulasi barang tetap lancar dan meminimalkan biaya penyimpanan barang. Teknologi RFID (Radio Frequency Identification) yang dikembangkan sekarang ini menawarkan beberapa keunggulan dalam hal pengelolahan barang. Teknologi ini berkenaan dengan penempatan sebuah chip mikro di sebuah barang sebagai penambah atau pengganti kode-kode balok (barcode) yang sudah populer digunakan. Dengan menggunakan teknologi RFID ini maka proses identifikasi barang menjadi sangat mudah dan cepat. Makalah ini menjabarkan cara pembuatan prototip sistem pengolahan barang dengan menggunakan teknologi RFID, yang mencakup desain perangkat lunak yang dibutuhkan untuk pengelolahan barang tersebut. Prototip yang dibuat memanfaatkan modul tulis baca RFID dan beberapa transponder (tag) berupa label dan kartu. Prototip yang dibuat diupayakan agar mudah dikembangkan lagi di kemudian hari untuk berbagai aplikasi.

Kata Kunci

Pengelolahan barang, RFID, Tag


BAB 1

Pendahuluan

1.1. Latar Belakang

Pengelolahan barang merupakan suatu hal yang penting. Barang yang dikelolah dapat berupa barang-barang kebutuhan sehari-hari di rumah tangga atau dapat pula berupa barang-barang kebutuhan produksi di dalam suatu industri. Seorang pengelolah rumah tangga akan dapat segera memesan barang kebutuhannya jika barang yang dibutuhkan habis atau sudah mencapai suatu stok minimal tertentu. Hal yang sama juga terjadi di dalam industri, baik berupa industri barang atua jasa.

Metode sederhana dalam proses pengelolahan barang dapat dilakukan secara manual dengan melakukan pencatatan terhadap barang-barang yang masuk maupun keluar. Berdasarkan catatan-catatan yang dibuat, kemudian dapat dilihat barang-barang yang sudah habis atau sudah mencapai suatu stok minimal tertentu. Cara manual akan menimbulkan masalah ketika jenis barang yang dicatat kian bertambah dan barang-barang yang keluar ataupun masuk berjalan dengan cepat. Salah satu metode yang dikembangkan orang untuk mempercepat proses pengelolahan barang adalah dengan menempelkan kode-kode balok (barcode) di setiap barang yang dikelola. Penempatan barcode ini cukup membantu karena kode-kode yang ditempelkan di barang dapat dibaca dengan sebuah alat optik yang hasil pembacaannya dapat disalurkan ke komputer. Penempelan barcode ini sudah lazim dilakukan dibarang-barang kebutuhan sehari-hari.

Meskipun teknologi barcode sesungguhnya sudah orang dalam pengelolahan barang, akan tetapi ada beberapa kelemahan yang berhubungan dengan sifat fisik barcode tersebut seperti sukar dibaca dibarang yang lentur, mudah hilang kehitamannya, hanya sedikit memberi informasi dan tidak fleksibel dalam proses pembacaannya. Kelemahan-kelemahan yang dimiliki barcode tersebut kini sudah dapat diatasi dengan penggunaan teknologi RFID (Radio Frequency Identification). Teknologi ini menggunakan transponder yang berisi chip yang dilengkapi dengan antena. Transponder tersebut dapat dibuat dalam ukuran yang sangat kecil. Transponder dapat ditempelkan di barang sebagai pengganti barcode. Transponder dapat memuat informasi jauh lebih banyak dibandingkan dengan barcode. Dengan menggunakan teknologi RFID maka pengelolahan barang menjadi lebih mudah dibandingkan dengan menggunakan barcode.

1.2. Ruang Lingkup

Dalam penulisan makalah ini, ruang lingkup yang dibahas adalah:

  • Barcode dan RFID (Radio Frequency Identification)

Di bagian ini akan dijelaskan mengenai apa itu barcode, RFID, tipe-tipe nya perta perbedaan antara keduannya.

  • Pengolahan barang dengan memanfaatkan teknologi RFID

1.3. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dan manfaat dari pembahasan topik ini antara lain :

  • Menjelaskan mengenai pengolahan barang dengan menggunakan system RFID
  • Memberikan pengetahuan mengenai apa itu Radio Frequency Identification (RFID) dan kegunaannya
  • Mengetahui manfaat RFID dalam sistem pengolahan barang

1.4. Metedologi Penelitian

Penelitian yang dilakukan berkaitan dengan pengenalan RFID baik transponder (tag) maupun alat pembaca dan penulisnya. Dan hal-hal yang berkenaan dengan inventaris seperti stok barang, barang masuk, barang keluar dan stok minimun.

Sistem diprogram agar dapat membaca atau menulis data ke transponder, juga dapat memberitahukan jumlah stok barang dan pemberitahuan akan jumlah barang yang sudah mencapai stok minimum. Untuk menuliskan data ke tag sistem menjalani suatu rutin program tersendiri, sementara diwaktu yang lain sistem secara terus menerus memantau tansponders (tags) yang ada di dalam sistem. Sistem akan merespon jika ada barang baru yang masuk dan respon juga akan diberikan terhadap barang yang keluar.


BAB 2

Landasan Teori

Mungkin tanpa disadari setiap hari kita akan menemui barcode, misalnya pada produk makanan, obat, barang konsumer yang kita miliki, tiket pesawat, kartu mahasiswa, bahkan sampai di sampul surat yang kita terima (biasanya dari luar negeri) pun kita temui barcode, oleh karenanya artikel ini akan mengulas apa dan bagaimana barcode itu. Barcode pada dasarnya adalah susunan garis vertikal hitam dan putih dengan ketebalan yang berbeda, sangat sederhana tetapi sangat berguna, dengan kegunaan untuk menyimpan data-data spesifik misalnya kode produksi, tanggal kadaluwarsa. (Anonim1, mengenal dan mempelajari barcode,http://www.innovativeelectronics.com/innovative_electronics/download_files/artikel/ar_barcode_1.pdf)

Barcode dibedakan menjadi 2 :

  • barcode 1 dimensi

Barcode 1 dimensi terdiri dari garis-garis yang berwarna putih dan hitam. warna putih untuk nilai 0 dan warna hitam untuk nilai 1.

  • Barcode 2 dimensi

Sedangkan barcode 2 dimensi sudah tidak berupa garis-garis lagi, akan tetapi seperti gambar. jadi informasi yang tersimpan didalamnya akan lebih besar.

Berdasarkan data yang saya peroleh dari (Anonim1, mengenal dan mempelajaribarcode,http://www.innovativeelectronics.com/innovative_electronics/download_files/artikel/ar_barcode_1_pdf) Jenis-jenis barcode dibedakan menjadi :

  • Code 39 / 3 of 9

Code 39 dapat mengkodekan karakter alphanumeric yaitu angka desimal dan huruf besar serta tambahan karakter spesial-.*$/%+

Satu karakter dalam Code 39 terdiri dari 9 elemen yaitu 5 bar (garis vertikal hitam) dan 4 spasi (garis vertikal putih) yang disusun bergantian antara bar dan spasi. 3 dari 9 elemen tersebut memiliki ketebalan lebih tebal dari yang lainnya oleh karenanya kode ini biasa disebut juga , 3 elemen yang lebih tebal tersebut terdiri dari 2 bar dan 1 spasi. Elemen yang lebar mewakili digit biner 1 dan elemen yang sempit mewakili digit biner 0.

Contoh :

Gambar 1. contoh code 39

  • Extended Code 39

Extended code 39 adalah pengembangan dari code 39 yang dapat mengkodekan seluruh karakter ASCII dengan cara mengkodekannya dengan pasangan code 39

  • Interleaved 2 of 5 (ITF)

ITF barcode hanya dapat mengkodekan angka saja dan sering digunakan pada produk-produk yang memiliki kemasan dengan permukaan yang tidak rata (misalnya corugated box), hal ini disebabkan struktur dan cara pengkodean ITF yang unik. Setiap karakter pada ITF barcode dikodekan dengan 5 elemen yaitu 2 elemen tebal dan 3 elemen sempit, dimana elemen tebal mewakili digit biner 1 sedangkan elemen tipis mewakili digit biner 0 dengan perbandingan ketebalan antara elemen tebal dengan elemen tipis 2:1 s/d 3:1.

Contoh :

Gambar 2. contoh Interleaved 2 of 5

  • Code 128

Code 128 adalah barcode dengan kerapatan tinggi, dapat mengkodekan keseluruhan simbol ASCII (128 karakter) dalam luasan yang paling minim dibandingkan dengan barcode jenis lain, hal ini disebabkan karena code 128 menggunakan 4 ketebalan elemen (bar atau spasi) yang berbeda (jenis yang lain kebanyakan menggunakan 2 ketebalan elemen yang berbeda). Setiap karakter pada code 128 dikodekan oleh 3 bar dan 3 spasi (atau 6 elemen) dengan ketebalan masing-masing elemen 1 sampai 4 kali ketebalan minimum (module).

Struktur code 128 barcode seperti terlihat dibawah ini :

Gambar 3. contoh code 128

Bagaimana cara kerja barcode? Barcode merupakan instrumen yang bekerja berdasarkan asas kerja digital. Pada konsep digital, hanya ada 2 sinyal data yang dikenal dan bersifat boolean, yaitu 0 atau 1. Ada arus listrik atau tidak ada (dengan besaran tegangan tertentu, misalnya 5 volt dan 0 volt). Barcode menerapkannya pada batang-batang baris yang terdiri dari warna hitam dan putih. Warna hitam mewakili bilangan 0 dan warna putih mewakili bilangan 1. Mengapa demikian? Karena warna hitam akan menyerap cahaya yang dipancarkan oleh alat pembaca barcode, sedangkan warna putih akan memantulkan balik cahaya tersebut.

Selanjutnya, masing-masing batang pada barcode memiliki ketebalan yang berbeda. Ketebalan inilah yang akan diterjemahkan pada suatu nilai. Demikian, karena ketebalan batang barcode menentukan waktu lintasan bagi titik sinar pembaca yang dipancarkan oleh alat pembaca.

Dan sebab itu, batang-batang barcode harus dibuat demikian sehingga memiliki kontras yang tinggi terhadap bagian celah antara (yang menentukan cahaya). Sisi-sisi batang barcode harus tegas dan lurus, serta tidak ada lubang atau noda titik ditengah permukaannya. Sementara itu, ukuran titik sinar pembaca juga tidak boleh melebihi celah antara batang barcode. Saat ini, ukuran titik sinar yang umum digunakan adalah 4 kali titik yang dihasilkan printer pada resolusi 300dpi.

Saat ini terdapat beberapa jenis instrumen pembaca barcode, yaitu: pena, laser, serta kamera. Pembaca berbentuk pena memiliki pemancar cahaya dan dioda foto yang diletakkan bersebelahan pada ujung pena. Pena disentuhkan dan digerakkan melintasi deretan batang barcode. Dioda foto akan menerima intensitas cahaya yang dipantulkan dan mengubahnya menjadi sinyal listrik, lalu diterjemahkan dengan sistem yang mirip dengan morse.

Pembaca dengan pemancar sinar laser tidak perlu digesekkan pada permukaan barcode, tapi dapat dilakukan dari jarak yang relatif lebih jauh. Selain itu, pembaca jenis ini memiliki cermin-cermin pemantul sehingga sudut pembacaan lebih fleksible.

Pembaca barcode dengan sistem kamera menggunaka sensor CCD (charge coupled device) untuk merekam foto barcode, baru kemudian membaca dan menterjemahkannya kedalam sinyal elektronik digital.

Bagaimana koneksi alat pembaca barcode dengan komputer? Ada 2 macam koneksi, yaitu sistem keyboard wedge dan sistem outpu RS232. Sistem ini menterjemahkan hasil pembacaan barcode sebagai masukan (input) dari keyboard. Biasanya menggunakan port serial pada komputer. Kita memerlukan software pengantara, umumnya disebut software wedge yang akan mengalamatkan bacaan dari barcode ke software pengolah data barcode tersebut. (Anonim2, Cara kerja barcode, http://www.pvidia.com/cara-kerja-barcode.php)

Dari barcode menuju ke RFID

Walau terbukti murah dan dapat dipakai di berbagai bidang, barcode ini ternyata mempunyai banyak kelemahan yaitu selain karena hanya bisa diidentifikasi dengan cara mendekatkan barcode tersebut ke sebuah reader, juga karena mempunyai kapasitas penyimpanan data yang sangat terbatas dan tidak bisa diprogram ulang sehingga menyulitkan untuk menyimpan dan memperbaharui data dalam jumlah besar untuk sebuah item.

Salah satu solusi menarik yang kemudian muncul adalah menyimpan data tersebut pada suatu silikon chip. RFID yang merupakan singkatan dari Radio Frequency Identification merupakan teknologi identifikasi baru yang dalam pengoperasiannya terjadi kontak antara transponder (tag) atau divais pembawa data yang terbuat dari silikon chip dilengkapi sebuah radio antena kecil dan reader yang terhubung dengan sistem komputer. Kontak antara RFID tag dengan reader tidak dilakukan secara kontak langsung atau mekanik melainkan dengan pengiriman gelombang electromagnet. Berbeda dengan smart card yang biasa dipakai di kartu telepon atau kartu bank yang juga menggunakan silikon chip, kode-kode RFID tag bisa dibaca pada jarak yang cukup jauh. (Anonim3, Dari barcode menuju ke RFID, http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=11)

RFID (Radio Frequency Identification) adalah teknologi identifikasi berbasis gelombang radio. Teknologi ini mampu mengidentifikasi berbagai objek secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung (atau dalam jarak pendek). RFID dikembangkan sebagai pengganti atau penerus teknologi barcode. Implementasi RFID secara efektif digunakan pada lingkungan manufaktur atau industri dimana diperlukan akurasi dan kecepatan identifikasi objek dalam jumlah yang besar serta berada di area yang luas. RFID bekerja pada HF untuk aplikasi jarak dekat (proximity) dan bekerja pada UHF untuk aplikasi jarak jauh (vicinity). RFID tag adalah sebuah benda kecil, misalnya berupa stiker adesif, dan dapat ditempelkan pada suatu barang atau produk. RFID tag berisi antena yang memungkinkan mereka untuk menerima dan merespon terhadap suatu query yang dipancarkan oleh suatu RFID transceiver. (Henlia, MengenalRFID, http://www.henlia.com/?p=195)

Ada empat macam RFID tag yang sering digunakan bila dikategorikan berdasarkan frekuensi radio (Henlia, Mengenal RFID, http://www.henlia.com/?p=195), yaitu:

• low frequency tag (antara 125 ke 134 kHz)

• high frequency tag (13.56 MHz)

• UHF tag (868 sampai 956 MHz)

• Microwave tag (2.45 GHz)

Suatu sistem RFID secara utuh terdiri atas 3 komponen (Anonim4, RFID, http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?view=article&catid=11%3Asistem-komunikasi&id=295%3Aradio-frequency-identification-rfid&option=com_content&Itemid=15):

  • Tag RFID, dapat berupa stiker, kertas atau plastik dengan beragam ukuran. Didalam setiap tag ini terdapat chip yang mampu menyimpan sejumlah informasi tertentu.
  • Terminal Reader RFID, terdiri atas RFID-reader dan antenna yang akan mempengaruhi jarak optimal identifikasi. Terminal RFID akan membaca atau mengubah informasi yang tersimpan didalam tag melalui frekuensi radio. Terminal RFID terhubung langsung dengan sistem Host Komputer.
  • Host Komputer, sistem komputer yang mengatur alur informasi dari item-item yang terdeteksi dalam lingkup sistem RFID dan mengatur komunikasi antara tag dan reader. Host bisa berupa komputer stand-alone maupun terhubung ke jaringan LAN / Internet untuk komunikasi dengan server.

Keunggulan utama RFID adalah pada aspek efisiensi dan kenyaman, menurut (Anonim5, Perpustakaan masa depan dengan teknologi RFID, http://ad71ck.staff.uns.ac.id/archives/132) dapat diuraikan sebagai berikut:

  • Tag RFID mampu diidentifikasi secara simultan (bersamaan), tanpa harus berada dalam jarak dekat (untuk mendukung aktivitas multiple check-in, check-out, shelf-inventories).
  • Tag RFID mampu diidentifikasi menembus berbagai objek seperti kertas, plastik dan kayu (wireless data capture).

Penggunaan RFID juga mengundang berbagai kontroversi. Ada empat alasan sehubungan privasi dalam penggunaan RFID (Henlia, Mengenal RFID, http://www.henlia.com/?p=195), yaitu:

  • Pembeli suatu barang (yang dilengkapi RFID tag) tidak akan tahu keberadaan dari RFID tag atau bahkan tidak dapat untuk melepasnya.
  • RFID tag dapat dibaca oleh pihak lain dalam jarak yang jauh tanpa sepengetahuan pemiliknya.
  • Jika suatu barang yang mengandung RFID tag Anda beli dengan menggunakan kartu kredit, maka akan sangat mungkin untuk mengasosiasikan ID tersebut dengan identitas si pembeli.
  • EPCglobal sedang membuat suatu standar untuk memberikan suatu ID yang unik secara global dan ini dikhawatirkan akan menimbulkan masalah privasi dan juga masih belum begitu perlu untuk beberapa aplikasi.

Label RFID atau yang biasa disebut RFID tag sendiri, pada dasarnya merupakan suatu microchip berantena, yang disertakan pada suatu unit barang. Dengan piranti ini, perusahaan bisa mengidentifikasi dan melacak keberadaan suatu produk. Seperti halnya barcode, yang memiliki Universal Product Code (UPC), sebuah tag RFID memiliki Electronic Product Code (EPC) berisi identitas produk tersebut, mulai dari nomor seri, tanggal produksi, lokasi manufaktur, bahkan tanggal kadaluarsa. EPC adalah identifikasi produk generasi baru, mirip dengan UPC atau barcode. Seperti halnya barcode, EPC terdiri dari angka-angka yang menunjukkan kode produsen, produk, versi dan nomor seri. Namun, EPC memiliki digit ekstra untuk mengidentifikasi item yang unik. Ukuran bit EPC yang mencapai 96-bit memungkinkannya secara unik mengidentifikasi lebih dari 268 juta produsen, masing-masing memiliki lebih dari satu juta jenis produk, sementara sisanya masih mencukupi untuk melabel seluruh produk individualnya. Informasi EPC inilah yang tersimpan di dalam chip RFID. (Anonim4, RFID, http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?view=article&catid=11%3Asistem-komunikasi&id=295%3Aradio-frequency-identification-rfid&option=com_content&Itemid=15)


BAB 3

Pembahasan

Teknologi RFID pada dasarnya merupakan teknologi identifikasi secara mandiri (automatis). Pembahasan mengenai teknologi ini tak lepas dari teknologi identifikasi automatis lainnya yang sudah ada khususnya Barcode. Barcode merupakan teknologi Identifikasi yang cukup luas digunakan dan kini mulai tergeser fungsinya oleh teknologi RFID. Sehingga, pembahasan RFID tidak akan lepas dari keberadaan Barcode khususnya pada bidang manajemen barang dan produk.

Teknologi Auto ID

Teknologi adalah kunci untuk mengatur perputaran barang dan produk, meski demikian terdapat gap antara dunia digital dengan dunia fisik. Suatu data mungkin dapat merepresentasikan keadaan objek secara fisik meskipun tidak terhubung secara langsung terhadap objek tersebut. Suatu masukan data pada suatu basis data yang menunjukkan bahwa barang tersimpan pada suatu lokasi (misal : gudang), pada dasarnya tak lebih dari hasil interaksi sekilas manusia. Interaksi tersebut telah berlangsung pada waktu lampau dan bersifat sementara. Meskipun demikian, basis data tersebut dianggap valid hingga pengecekan berikutnya (re-check).

Kondisi ini pada akhirnya berubah dengan adanya Automatic Identification (Auto-ID). Auto-ID merupakan komponen utama dalam otomasi identifikasi barang dengan lebih efisien dan real-time (waktu nyata). Dengan adanya Auto-Id , kemampuan updating basis data dapat dilakukan lebih cepat bahkan Real-Time. Auto-ID dapat dianggap sebagai usaha manusia untuk mengotomasi kegiatan identifikasi.

Komponen utama RFID

RFID sebagai teknologi identifikasi mempunyai 2 komponen utama, yaitu Reader dan Transponder (umum dikenal sebagai Tag). Transponder merupakan suatu media yang menyimpan kode unik yang digunakan sebagai identifikasi. Transponder ditempelkan pada media yang ingin diidentifikasi. Sedangkan Reader merupakan perangkat yang digunakan untuk mengekstrak kode unik yang tersimpan pada Transponder.

Transponder pada dasarnya merupakan suatu perangkat komunikasi Radio. Sebuah Transponder dapat berupa pemancar dan penerima (Transceiver : Transmitter -Receiver) gelombang Radio. Meski dapat pula suatu transponder hanya berupa perangkat pancar gelombang radio. Pemilihan teknologi ini tergantung jenis mode komunikasi yang digunakan. Pada mode Read-Only,yaitu mode dimana hanya melibatkan kegiatan baca saja dan tidak melakukan kegiatan tulis, transponder umumnya hanya berupa Transmitter karena tidak diperlukan pengiriman informasi untuk ditulis Tag oleh Reader. Sedangkan pada mode Read-Write dapat dipastikan transponder adalah suatu transceiver. Tag mampu menerima perintah dan bahkan informasi dari Reader untuk kemudian dieksekusi maupun disimpan.

Sistem RFId dengan transponder bersifat transciever dapat menerapkan teknologi akses jamak, yaitu kemampuan untuk melakukan pembacaan 2 atau lebih transponder pada masa yang sama. Teknologi ini selain meningkatkan efisiensi proses pembacaan juga dapat memastikan tidak adanya kesalahan baca pada saat terdapat lebih dari 1 kartu pada daerah baca.

RFID muncul sebagai media identifikasi otomasi yang mampu mengatasi kelemahan teknologi Barcode. Hal ini dimungkinkan karena teknologi ini tidak memanfaatkan medium optis melainkan menggunakan media udara melalui perantara Gelombang Elektromagnetik (GEM). GEM dapat menjalarkan suatu informasi melalui udara hampir tanpa kendala yang berarti. Oleh karenanya pada proses identifikasi RFID tidak disyaratkan hal-hal semacam Barcode. RFID tidak membutuhkan kondisi LOS, jarak baca lebih jauh (hingga lebih dari 10 m pada mode Backscatter), tidak dibutuhkan posisi pembacaan khusus dan mampu mengidentifikasi lebih dari 100 item per detik. Bahkan, barang atau media yang ingin diidentifikasi cukup sekilas melewati suatu alat pembaca (Reader) dan media tersebut sudah dapat diidentifikasi

Teknologi RFId memanfaatkan komponen chip memori yang mampu menampung informasi lebih banyak. Apalagi mengingat teknologi ROM (Read Only Memory) yang telah sampai pada kemampuan tulis dan baca secara elektrik , EEPROM. Maka, tidaklah mengherankan bila teknologi RFID mampu tidak sekedar membaca kode tetapi bahkan menyimpan kegiatan transaksi pada memori. Selain itu, kapasitas memori sebuah Transponder pun memungkinkan bervariasi dari kapasitas 64 bit , yang berisi kode unik saja, hingga 64kB yang mampu menyimpan kegiatan transaksi hingga orde ratusan.

Teknologi RFID mengadopsi teknologi akses jamak untuk mendukung kemampuan pembacaan multi tag. Dengan teknologi tersebut, beberapa transponder dapat diidentifikasi, diproses secara simultan. Sehingga, pemakaian teknologi ini cukup praktis. Pembacaan barang-barang dapat dilakukan secara simultan dan bahkan tanpa perlu campur tangan manusia karena penggunaan media GEM.

Alasan yang cukup kuat kenapa RFID lebih unggul daripada Barcode adalah imunitasnya terhadap kondisi lingkungan buruk. Berbeda dengan Barcode yang terpengaruh kondisi lingkungan semacam air, debu dan kondisi buruk lainnya, suatu transponder terbebas dari pengaruh tersebut. Pembacaan berjalan lancar baik pada kondisi terburuk dengan menggunakan teknologi RFID. Hal ini tentunya melegakan bagi pemakai teknologi identifikasi khususnya barcode yang ingin bermigrasi pada teknologi RFID.

Umumnya, penulisan kode barcode dilakukan pada sebuah media tertentu dengan cara cetak yang dapat dilihat secara langsung. Kode dengan jelas terpampang dalam pola-pola tertentu yang sangat mudah ditiru. Kondisi demikian, cukup rentan terhadap pembobolan dan duplikasi. Apalagi bila aplikasi diterapkan pada bidang Access Control, yaitu pembatasan akses pada ruang tertentu berdasar hak yang dimilikinya. Teknologi RFID mempunyai kemampuan enkripsi baik dari sisi kanal RF maupun memori. Duplikasi tidak dengan mudah dapat dilakukan meskipun mungkin. Setidaknya dalam beberapa level, teknologi RFID mampu memberikan jaminan keamanan dibandingkan Barcode.

Suatu system RFID secara diagram blok dapat digambarkan sebagai  berikut:

Gambar 4. Sistem RFID

Dalam gambar terlihat transponder (tag) yang biasanya direkatkan di barang berhubungan dengan alat pembaca atau penulisnya secara nirkabel (wireless). Transponder sesungguhnya memiliki dua jenis, yaitu :

  • Tag Aktif

Yaitu tag yang catu dayanya diperoleh dari batere, sehingga akan mengurangi daya yang diperlukan oleh pembaca RFID dan tag dapat mengirimkan informasi dalam jarak yang lebih jauh. Kelemahan dari tipe tag ini adalah harganya yang mahal dan ukurannya yang lebih besar karena lebih komplek. Semakin banyak fungsi yang dapat dilakukan oleh tag RFID maka rangkaiannya akan semakin komplek dan ukurannya akan semakin besar.

  • Tag Pasif

Yaitu tag yang catu dayanya diperoleh dari medan yang dihasilkan oleh pembaca RFID. Rangkaiannya lebih sederhana, harganya jauh lebih murah, ukurannya kecil, dan lebih ringan. Kelemahannya adalah tag hanya dapat mengirimkan informasi dalam jarak yang dekat dan pembaca RFID harus menyediakan daya tambahan untuk tag RFID.

Perbedaan sifat antara RFID aktif dan pasif dapat dilihat pada tabel dibawah ini

Tabel 1. Perbandingan tag aktif dengan tag pasif

RFID tag juga dapat dibedakan berdasarkan tipe memori yang dimilikinya :

1. Read / Write (Baca/Tulis)

Memori baca/tulis secara tidak langsung sama seperti namanya, memorinya dapat dibaca dan ditulis secara berulang-ulang. Data yang dimilikinya bersifat dinamis.

2. Read only (Hanya baca)

Tipe ini memiliki memori yang hanya diprogram pada saat tag ini dibuat dan setelah itu datanya tidak bisa diubah sama sekali. Data bersifat statis.

Perbandingan antara Barcode dengan RFID dapat dilihat pada tabel berikut

Sistem

Barcode

RFID

Transmisi data

Optik

Elektromagnetik

Ukuran data

1-100 Byte

128-8096 Byte

Modifikasi data

Tidak bisa

Bisa

Posisi pembawa data

Kontak cahaya

Tanpa kontak

Jarak komunikasi

Sangat dekat

Dari cm sampai meter

Supsebilitas lingkungan

Debu

Dapat diabaikan

Pembacaan jamak

Tidak bisa

Bisa

Tabel 2. Perbandingan barcode-RFID

Dari tabel 2 terlihat beberapa kelebihan teknologi RFID dibandingkan dengan teknologi barcode. Kelebihan-kelebihan tersebut membuat sebagian perusahaan besar seperti Wall Mart, Philips dan yang lain sudah mulai beralih ke pemanfaatan RFID.

Menuju real-time manufacturing

Di rangkaian supply chain, penerapan RFID sangat berpengaruh pada pemasok dan pemanufaktur. Misalnya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar: Berapa jumlah barang yang harus dihasilkan? Kapan harus dibuat? Ke mana harus dikirim? Ada di mana barang-barang itu?

Dengan jawaban yang tepat dan akurat, mereka bisa membuat forecasting, memroduksi dan mendistribusikan secara lebih efisien. Bahkan, dengan RFID, just-in-time manufacturing dapat berkembang lebih jauh menjadi real-time manufacturing (Lyle Ginsburg, managing partner inovasi teknologi, Accenture).

Teknologi RFID akan berdampak positif pada pengelolaan bahan mentah dan aset-aset yang reusable, inventori gudang, pengiriman, pemrosesan pengembalian barang, logistik dan lainnya. Bagi pemasok, RFID dapat memanfaatkan peralatan dan aset-aset lainnya secara lebih baik. Peralatan yang ber-tag RFID seperti forklift, troli dan kontener, dus dan palet akan lebih mudah dideteksi, juga isi yang dibawanya.

Dampak positif lain yang bakal dinikmati para pemanufaktur adalah inventory management yang lebih baik. Dengan menempelkan tag pada dus dan pallet, juga barang, perhitungan inventaris lebih akurat. Out-of-stock berkurang, karena para pemasok mengetahui dengan tepat kapan jumlah stok menipis. Jika teknologi untuk memprediksi permintaan konsumen sudah dimiliki, RFID membuatnya lebih efektif.

RFID dapat meningkatkan proses produksi. Bahan baku yang banyak dan beragam bisa diberi tag untuk mengurangi kesalahan dalam proses pemilihan atau pencampuran bahan baku. Selain dapat menghasilkan produk-produk yang bermutu tinggi, lingkungan kerjanya lebih aman.

Di industri pengolahan makanan, RFID membantu memastikan mutu produk dengan melacak bahan atau komponen yang digunakan, misalnya obat-obatan, hingga ke sumber asal dan penyedianya. Jika dikombinasi dengan sensor, RFID akan mengambil dan melaporkan data seperti product ID, tanggal keluar, karakteristik fisik dan nomor lot pada setiap tahap proses produksi. Ini akan membantu para pemasok makanan memenuhi regulasi pengendalian mutu yang disyaratkan oleh badan pengawas obat dan makanan.

Pengiriman keluar oleh para pemanufaktur pun akan lebih akurat, karena pengembalian barang dan pemrosesannya lebih sedikit. Pada saat barang dikembalikan ke produsen, tag RFID akan memberi data yang lebih rinci, seperti tanggal pengiriman produk, identitas pelanggan dan harga yang dibayar.
Teknologi ini juga memberi pemanufaktur tingkat kepastian yang lebih besar mengenai apa yang terjadi di rantai pasok dibandingkan sistem-sistem yang ada sekarang (Ginsburg). Secara teoritis, teknologi ini memungkinkan pemanufaktur menggunakan sebuah PC dengan browser untuk melihat rak-rak pajang di suatu toko lokal atau gudang.

Aplikasi pergudangan

RFID bisa secara dramatis mengubah cara gudang dan pusat distribusi dikelola, sehingga lebih efisien dan akurat. Produktivitas dalam penerimaan dan check-in produk meningkat 50 sampai 80 persen. (Kevin Mitchell, associate partner, supply chain service line, Accenture). Ini akibat dihilangkannya proses pengecekan barang, penulisan informasi barang, memasukkan data ke terminal dan mencetak dokumen. Semua dilakukan secara otomatis dan terhubung secara mudah ke suatu sistem pengelolaan pergudangan.

Proses pengambilan dan pengemasan barang juga bisa dilakukan secara lebih mudah. Suatu barang bisa langsung dilacak keberadaannya di dalam gudang ketika pesanan atau order diterima. Jika masing-masing barang diberi tag, secara otomatis bisa dicocokkan dengan order untuk memastikan barang yang diambil tepat.

Kendalanya adalah pengintegrasian RFID dengan aplikasi-aplikasi warehouse management. Pada tingkat pallet atau dus, RFID bisa bekerja dengan baik. Namun, jika sampai ke tingkat individual item, timbul banyak kesulitan pada pengintegrasian datanya. (Mitchell). Para early adopters sebagian besar menoleh ke solusi middleware untuk membantu masalah pengintegrasian data ini.

Beberapa vendor piranti lunak enterprise terkemuka sudah menyadari hal ini. Beberapa di antaranya sudah meluncurkan produk-produk piranti lunak yang kompatibel dengan infrastruktur RFID. Oracle misalnya, sudah merilis aplikasi Oracle Warehouse Management (OWM) versi baru yang mendukung RFID. OWM versi 10i.5 kompatibel dengan tag, reader dan printer untuk RFID yang dibuat beragam vendor. Sistem WM yang RFID-enabled ini akan terhubung dengan aplikasi dan sistem lainnya melalui 10g Application Server juga buatan Oracle.

Distribusi yang lebih efisien

Kemudahan pelacakan barang dan aset akibat penerapan RFID juga bermanfaat untuk industri transportasi dan logistik. Jutaan dolar dapat dihemat dengan meningkatkan utilisasi aset, mendongkrak efisiensi operasional dan keamanan serta keselamatannya.

Kalau Anda mengirim baju warna merah dari lokasi A ke lokasi B, dan Anda memutuskan tidak membutuhkan baju merah di B namun di C, maka RFID memungkinkan Anda mencari lokasi truk berisi kiriman baju merah dan mengarahkannya ke lokasi yang dibutuhkan pelanggan. Dengan cara ini jutaan dolar bisa dihemat.

Teknologi RFID dalam Wal-Mart

Sam Walton, pendiri Wal-Mart mewariskan sebuah inovasi bisnis yang menjadi prinsip usaha Wal-Mart hingga sekarang, yaitu efisiensi dalam distribusi. Efisiensi ini diwujudkan dengan cara membeli barang langsung dari produsennya. Pada saat Wal-Mart didirikan, cara yang lazim dilakukan adalah membeli barang dari distributor besar (grosir). Tidak hanya itu, Wal Mart juga berusaha sekeras mungkin memotong harga dari produsen sehingga mencapai harga serendah-rendahnya. Efisiensi menjadi kata kunci dalam bisnisnya. Pada kelanjutannya, WalMart mendirikan banyak cabang dan pusat distribusi. Dan sejak itu, Wal Mart berkembang pesat. Prinsipnya adalah, semakin banyak melayani konsumen, semakin banyak barang yang terjual, semakin besar pula diskon yang akan didapat dari produsen karena membeli dalam jumlah besar.

Wal Mart suka berinovasi dalam segala hal. Kebiasaan berinovasi ini menjadikannya lebih efisien dari waktu ke waktu. Salah satu contoh adalah dipakainya sistem RFID dalam pengolahan sistem informasi dan database perusahaan. Barang yang didistribusikan kini ditempeli tanda pengenal RFID berupa chip. Chip ini akan dikenali oleh sensori yang berada di pintu-pintu gudang. Chip RFID ini menyimpan semua data tentang barang tersebut, baik jenis, produsen, warna, bentuk, kualitas barang, dan sebagainya. Dengan cara ini, Wal Mart menghemat beberapa jam dalam distribusi barang.

Pada kelanjutannya, Wal Mart juga banyak melakukan perbaikan pada bidang komunikasi internal dan sistem informasi. Contohnya adalah pemasangan alat radio satelit pada setiap truk pengangkut barang. Implikasinya, truk pengangkut barang ini dapat seketika berubah arah ke cabang yang lebih membutuhkan barang, atau juga membagi-bagi barang ke beberapa cabang. Cara ini meningkatkan efisiensi distribusi barang. Efisiensi berarti pertambahan pemasukan lagi.

Efisiensi dilakukan dalam banyak hal. Pertama, menekan harga dari produsen hingga ke nilai paling rendah. Kedua, berusaha mendapat potongan harga dari pembelian banyak. Dengan memotong rantai distribusi inilah, Wal Mart mendapat untung yang cukup besar. Ia kemudian belajar, bahwa dengan melayani lebih banyak konsumen, berarti lebih banyak barang yang terjual. Dengan banyaknya barang yang terjual, ia berarti lebih banyak mendapat pemasukan. Tetapi selain itu, dengan menjual lebih banyak, ia juga akan mendapat potongan lebih besar dari produsen, yang lagi-lagi akan memperbesar margin keuntungannya. Dengan cara inilah, salah satunya, Walton menggelembungkan kapital Wal Mart hingga seperti sekarang ini.

Perbaikan Jaringan Distribusi

Selain memotong harga dari produsen, Wal Mart juga membenahi sistem jaringan distribusinya. Banyak gudang-gudang distribusi didirikan. Gudang-gudang distribusi inilah yang menampung barang dari semua produsen di seluruh dunia. Melalui prinsip jaringan distribusi yang rapi dan efisien ini, Wal Mart mampu berkembang dari sekedar toko kecil di Arkansas yang nilai kapitalnya hanya 4-5 persen dari pesaingnya, KMART dan SEARS menjadi toko retail terbesar di dunia. Dalam memperbaiki jaringan distribusinya, Wal Mart menggunakan banyak inovasi dalam skala teknis yang terbukti ampuh, seperi penggunaan headphone pada setiap petugas distribusi yang mengingatan secara terus menerus akan jadwal, apakah mereka terlambat atau tidak. Penggunaan headphone ini disisi lain menjaga agar tangan para karyawan tetap bekerja dengan bebas.

Selain itu, Wal Mart juga melengkapi para sopirnya dengan radio satelit agar dapat mudah berkomunikasi. Komunikasi ini diperlukan agar semua truk mudah dikontrol. Sebagai contoh, jika sebuah truk dijadwalkan mengantar barang dari A ke B, tetapi ditengah jalan mendapat “titipan” barang dari C, maka pesanan mendadak ini dapat segera dilaksanakan tanpa harus menjadwal ulang rute truk tadi.

Perbaikan Sistem Informasi

Perbaikan dalam bidang sistem informasi pun tidak ketinggalan. Wal Mart membenahi sistem informasinya dengan menggunakan RFID, yaitu chip penganal otomatis yang menyimpan semua data tentang suatu barang mencakup nama, produsen, kadaluarsa, warna, materi, kondisi, dan sebagainya. RFID ini ditempatkan pada setiap kemasan besar (kardus) dari barang. Penggunaan RFID menggantikan barcode terbukti meningkatkan efisiensi waktu berkali-kali lipat. Para petugas di gudang tidak perlu berlama-lama memeriksa barang-barang yang baru masuk. Biasanya sebelumnya, terjadi penyumbatan di level ini. Pekerjaan yang dahulu dilakukan berjam-jam, dapat dilakukan dalam beberapa detik .

Selain RFID, Wal Mart retailer yang pertama kali mengembangkan sistem informasi tentang apa yang orang beli dan seberapa banyak pembeliannya. Data ini tidak hanya dimonopoli oleh Wal Mart, tetapi juga diberikan kepada produsen agar produsen cepat beradaptasi terhadap keinginan pembeli. Wal Mart menjadikan produsennya sebagai rekan kerja.

Penggunaan sistem RFID juga meningkatkan analisis terhadap database barang. Wal Mart dapat memeriksa, barang apa yang laku disaat-saat tertentu, dan siapa pembelinya. Contohnya adalah, saat terjadi bencana alam angin ribut, ditemukan bahwa orang menyukai makanan instant yang mudah disimpan dan tidak mudah busuk. Data ini kemudian menjadi dasar bagi Wal Mart untuk memperbanyak stok barang tersebut. Hasilnya? Peningkatan keuntungan.

Pengenalan akan pelanggan seperti inilah yang mendorong Wal Mart untuk lebih maju lagi. Ini berarti selalu ada barang yang dibutuhkan pada saat yang tepat. Pihak toko tidak perlu memperbanyak stok dengan barang-barang yang tidak perlu dan sulit terjual. Di lain pihak, Wal Mart tidak kehilangan potensi pendapatan yang diterima apabila barang tersebut tidak ada. Dengan demikian, Wal Mart menjaga stok barangnya agar tetap mengalir. Ini mengakibatkan hubungan yang lebih baik dengan produsen dan menjaga kualitas barang tetap baik karena tidak perlu berlama-lama di gudang. Selain itu, para pelanggan terpuaskan karena kebutuhannya terpenuhi. Teknologi memang bermanfaat. Berkat inilah salah satunya, selain dari banyak inovasi lain, Wal Mart mampu menjadi retailer terbesar di dunia saat ini, dan mungkin masih dalam waktu yang lama, mengingat nilai kapital yang dimilikinya sangat besar.

Rantai distribusi yang dibuat Wal Mart memungkinkan untuk pertama, mengenali barang yang diantar langsung dari produsen dengan cepat. Barang dicatat hanya dalam waktu beberapa detik saat melewati sensori RFID. Setelah itu, semua data yang berkaitan dengan barang tersebut sudah tercatat di bank data. Barang kemudian siap dijual. Barang yang dimasukkan ke rak tentu saja hasil dari analisa tren penjualan selama beberapa hari terakhir. Ini adala monitor kebutuhan pelanggan. Kemudian, setelah barang diletakkan di rak, penjualannya dimonitor sebagai bahan analisis kebutuhan pelanggan untuk hari-hari berikutnya. Barang yang lama terjual dapat didistribusikan ke cabang lain. Cara distribusinya pun dapat dilakukan dengan cepat, yaitu dengan menghubungi truk yang sedang berada dekat toko tersebut. Truk dapat dihubungi karena mempunyai radio komunikasi. Demikianlah, rantai distribusi Wal Mart begitu kuat dan rapi.

Teknologi memang bermanfaat. Berkat inilah salah satunya, selain dari banyak inovasi lain, Wal Mart mampu menjadi retailer terbesar di dunia saat ini, dan mungkin masih dalam waktu yang lama, mengingat nilai kapital yang dimilikinya sangat besar.


BAB 4

Penutup

Kesimpulan

System pengolahan barang real time dengan memanfaatkan teknologi RFID, akan membuka suatu peluang pembuatan system inventaris yang memberikan respon yang cepat dan tidak menutup kemungkinan membuat system menjadi lebih efisien dan ekonomis dibandingkan dengan system manual ataupun system yang sudah menggunakan kode balok (barcode).

Dengan menggunakan system RFID kita bisa menghemat waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan. Selain itu, dengan teknologi RFID tersebut kita juga bisa memahami selera/kenginan pelanggan sehingga kita dapat memberikan apa kebutuhan mereka dan pelanggan pun terpuaskan.

Saran

Seperti yang kita ketahui, teknologi RFID merupakan teknologi yang masih baru dan rentan akan keamanan/security, oleh karena itu walaupun terdapat banyak kelebihan dari teknologi RFID, tetapi perlu juga diperhatikan keterbatasan dan berbagai permasalahan terutama standart, security dan privasi sebelum sistem ini diterapkan.


BAB 5

Daftar Pustaka

  1. http://ad71ck.staff.uns.ac.id/archives/132
  1. http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=11
  1. http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi-tugas-makalah/jaringan-komputer/radio-frequency-identification-rfid-0
  1. http://pusatrfid.wordpress.com/
  1. http://reneymosal.blogspot.com/
  1. http://www.ebizzasia.com/0215-2004/focus,0215,04.htm
  1. http://www.henlia.com/?p=195
  1. http://www.innovativeelectronics.com/innovative_electronics/download_files/artikel/ar_barcode_1.pdf
  1. http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php?view=article&catid=11%3Asistem-komunikasi&id=295%3Aradio-frequency-identification-rfid&option=com_content&Itemid=15

10.  http://www.lib.itb.ac.id/~mahmudin/makalah/ict/ref/RFID.pdf

11.  http://www.pvidia.com/cara-kerja-barcode.php


Lampiran

Daftar Gambar

-          Gambar 1. Contoh barcode code 39 / 3 of 9

-          Gambar 2. Contoh barcode Interleaved 2 of 5 (ITF)

-          Gambar 3. Contoh barcode Code 128

-          Gambar 4. Sistem RFID

Daftar Tabel

-          Tabel 1. Perbandingan tag aktif dengan tag pasif

-          Tabel 2. Perbandingan barcode-RFID

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: